Senin, 12 September 2016

Martabat Tanggung Jawab Universal : Di Borobudur 21 Juni dan MONAS 11 September Malam 2016

Sumber Bamboo Spirit Nusantara Jurnals September


Leluhur pembangun negeri ini telah berpikir begitu jauh, dan sebagian telah terimplementasi. Belajar dari Borobudur, dimana berbagai peradaban terekam, terjaga keutuhannya pada esensi keberadaannya, maka dibangunlah “MONAS” (Monument Nasional).

Monas, secara pisik memang adalah hanya bentuk bangunan yang merupakan symbol. Kami memandangnya sebagai tonggak eksistensi Bangsa yang tegar, teguh dan meliputi semua kebutuhan manusia sempurna, dalam konteks selamat dan menyelamatkan. Empat sudutnya menghadap ke Istana Negara, Gedung Indosat, Gedung PLN, dan Kubah Istiqlal. Sebuah filosofi yang mengandung makna esensi pengejawantahan dari cita-cita luhur pendiri bangsa ini.  

Monas bukan saja karya teknologi tetapi tonggak ideologi. Monas bukan saja produk manusia yang merdeka, tetapi produk manusia yang bercita-cita meliputi (sempurna). Manusia yang patuh pada perintah guna kemasylahatan manusia dan alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam komitmen bernegara, “ menjaga perdamaian dunia”. Jelas, Indonesia Raya bukan saja hanya untuk rakyat Indonesia, tetapi kemasylahatan masyarakat dunia. Bangsa ini harus bangkit menjadi RAYA melalui kesadaran berkeluarga, bernegara dan kesadaran sebagai manusia sempurna, seperti yang diamanahkan oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya, Jadi Pandu Ibuku, Bangunlah Jiwanya-Bangunlah Badannya. Suatu konsep yang jelas dari tujuan bangsa Indonesia.
Dari kearifan negri inilah peradaban baru akan terbangun. Peradaban dimana keseimbangan alam akan terjaga. Peradaban dimana sesama ciptaan saling memahami dan memaklumi.



Elok rasanya ketika kita memulainya dari tonggak negri ini “MONAS”, untuk mencanangkan Indonesia Raya, yang diawali dengan ‘DOA’.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar