Sumber Bamboo Spirit Nusantara Jurnals September
Leluhur pembangun
negeri ini telah berpikir begitu jauh, dan sebagian telah terimplementasi.
Belajar dari Borobudur, dimana berbagai peradaban terekam, terjaga keutuhannya pada
esensi keberadaannya, maka dibangunlah “MONAS” (Monument Nasional).
Monas, secara
pisik memang adalah hanya bentuk bangunan yang merupakan symbol. Kami memandangnya
sebagai tonggak eksistensi Bangsa yang tegar, teguh dan meliputi semua
kebutuhan manusia sempurna, dalam konteks selamat dan menyelamatkan. Empat
sudutnya menghadap ke Istana Negara, Gedung Indosat, Gedung PLN, dan Kubah
Istiqlal. Sebuah filosofi yang mengandung makna esensi pengejawantahan dari
cita-cita luhur pendiri bangsa ini.
Monas bukan saja karya teknologi tetapi
tonggak ideologi. Monas bukan saja produk manusia yang merdeka, tetapi produk
manusia yang bercita-cita meliputi (sempurna). Manusia yang patuh pada perintah
guna kemasylahatan manusia dan alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam komitmen
bernegara, “ menjaga perdamaian dunia”. Jelas, Indonesia Raya bukan saja hanya
untuk rakyat Indonesia, tetapi kemasylahatan masyarakat dunia. Bangsa ini harus
bangkit menjadi RAYA melalui kesadaran berkeluarga, bernegara dan kesadaran
sebagai manusia sempurna, seperti yang diamanahkan oleh lagu kebangsaan
Indonesia Raya, Jadi Pandu Ibuku, Bangunlah Jiwanya-Bangunlah Badannya. Suatu
konsep yang jelas dari tujuan bangsa Indonesia.
Dari kearifan
negri inilah peradaban baru akan terbangun. Peradaban dimana keseimbangan alam
akan terjaga. Peradaban dimana sesama ciptaan saling memahami dan memaklumi.
Elok rasanya
ketika kita memulainya dari tonggak negri ini “MONAS”, untuk mencanangkan
Indonesia Raya, yang diawali dengan ‘DOA’.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar